Indah Pada Waktunya
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Juli 2014

Israel Modern Tidak Sama dengan di Alkitab


Orang Kristen dan Muslim Palestina berdemonstrasi menentang serang Israel ke Gaza, akhir November 2012. (Foto: rightnow.io)


SATUHARAPAN.COM – Umat Kristen perlu mendukung rakyat Palestina, sebab mereka berhak memiliki negara merdeka dan berdaulat. Sebab, Israel modern tidak sama dengan Israel dalam Alkitab Perjanjian Lama. Sedangkan, Israel di Perjanjian Baru diidentikkan dengan umat Kristen.

Konflik Palestina-Israel kembali membara dimulai minggu pertama Juli 2014. Israel mengebom sasaran-sasaran yang diduga tempat persembunyian pejuang Hamas di Gaza. Sementara Hamas dari Gaza menembakkan roket ke daerah Israel. Seruan berbagai negara atau masyarakat agar Israel dan Hamaz melakukan gencatan senjata belum membawa hasil. Hamaz masih tetap menembakkan roket-roketnya  dan Israel masih mengebom Gaza.  Dalam waktu satu minggu konflik telah mengakibatkan korban 190-an nyawa dan ribuan luka-luka di pihak rakyat Palestina, sedangkan tidak ada korban serius di pihak Israel.

Berbagai sikap pro dan kontra telah diperlihatkan oleh masyarakat internasional. PBB, Uni Eropa, dan negara-negara Arab mendesak dilakukan gencatan senjata dan pembicaraan damai. Di pihak lain, Obama, Presiden Amerika mengkritik serangan roket Hamaz dan menyatakan bahwa Israel punya hak untuk melindungi masyarakatnya. Indonesia mengusulkan melalui gerakan non-blok dan OKI untuk gencatan senjata dan konflik diselesaikan secara damai yaitu dengan dialog. Pemerintah Indonesia memberi bantuan dana sebesar 1 juta US Dollar. Dukungan masyarakat Islam Indonesia tampak pada lembaga-lembaga keagamaan, lembaga non-pemerintah atau LSM dan organisasi-organisasi siswa dan kemahasiswaan melalui demonstrasi anti-Israel dan pengumpulan dana bantuan untuk rakyat Palestina.

Bagaimana sikap Kristen?

Menanggapi konflik Palestina-Israel tahun 2008-2009, Dubes Palestina untuk Indonesia, Fariz N Mehdawi, dalam acara bedah buku tentang Palestina, Mei 2011 telah meminta dukungan terbuka dari kalangan Kristen. Menurutnya suara Kristen Indonesia tidak begitu tampak, padahal mereka dapat berpengaruh dalam membantu penyelesaian konflik Palestina-Israel.

Umat Kristen atau gereja sebagai lembaga tampak belum mengungkapkan secara terbuka sikapnya dalam konflik Palestina-Israel.  Namun, ada kecenderungan sebagian kalangan Kristen memberikan dukungan kepada Israel yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan penerimaan atau persetujuan terhadap tindakan-tindakan Israel. Bahkan ada yang  mengibarkan atau memasang bendera Israel atau lambang Zionis pada statusnya di media sosial.  Dasar dari dukungan itu adalah teologis-alkitabiah. Bahwa Israel adalah umat Allah atau bahkan bangsa pilihan dan pendudukan tanah Palestina dibenarkan karena tanah itu adalah pemberian Allah sebagai Tanah Perjanjian.  Karena itu segala tindakan Israel, seperti pendudukan tanah Palestina dan serangan militernya ke daerah Palestina dengan alasan untuk melindungi daerah kekuasaan dan rakyatnya dapat dibenarkan dan dipahami sebagai perkenaan Tuhan.

Sementara di pihak lain, banyak kalangan dalam Islam yang mendukung Palestina dengan alasan solidaritas sesama Muslim. Mereka memahami bahwa Palestina adalah negara dengan penduduk beragama Islam. Karena itu penderitaan rakyat Palestina adalah penderitaan masyarakat Islam sehingga umat Islam wajib mendukung Palestina dan sebaliknya harus antipati terhadap Israel. Apalagi, negara Israel dengan bangsa dan agama Yahudi-nya ditolak di dalam ajaran Islam.

Bukan Berlatar Agama

Sesungguhnya, konflik Palestina-Israel bukan berlatar belakang agama; apalagi antara Israel yang Yahudi dan didukung secara teologis oleh Kristen versus bangsa Palestina-Arab yang Islam. Konflik itu disebabkan terutama oleh persoalan tanah. Dengan kekuatan politik militer, Israel menduduki sebagian tanah Palestina dan memerdekakan diri sebagai negara Israel. Yang tersisa untuk rakyat Palestina adalah dua tempat yaitu Jalur Gaza dan Tepi Barat. Keduanya terpisahkan oleh daerah yang dikuasai oleh Israel. Dalam sejarah pendudukannya, Israel terus berusaha memperluas daerah kekuasaannya dengan membangun pemukiman-pemukiman baru bagi warga Yahudi di daerah Palestina. Persoalan pendudukan ini bertambah dengan kebijakan Israel yang tidak menyetujui pendirian negara Palestina merdeka. Sementara Palestina tidak mengakui berdirinya negara Israel. Jadi kedua pihak tidak saling menerima dan mengakui sebagai negara merdeka dan berdaulat. Namun secara sosial-politik Palestina masih dikuasai-diatur sesuai kebijakan Israel. Ini alasan utama konflik Palestina-Israel tidak pernah selesai sampai konflik antara Israel dengan faksi Hamaz di jalur Gaza itu terjadi lagi di Juli 2014 ini.

Berlarut-larutnya persoalan Palestina-Israel juga disebabkan oleh sikap dunia internasional yang tidak tegas, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa. Demikian juga ketidakjelasan atau sikap mendua dari Amerika Serikat, sebagai negara yang sangat menentukan penyelesaian konflik itu. Di pihak lain, negara-negara Arab atau Islam tidak satu atau tidak menunjukkan dukungan secara kolektif terhadap penyelesaian konflik itu. Negara-negara Arab-Islam masih terpecah menyangkut dukungan khususnya kepada Palestina.   

Berdasarkan alasan-alasan konflik di atas maka tentu tidak layak jika dukungan sebagian kalangan Kristen diberikan kepada Israel karena alasan teologis-alkitabiah dan antipati atau persaingan dengan Islam. Secara teologis-alkitabiah, bangsa Israel yang dimaksud di dalam Alkitab Perjanjian Lama tidak menunjuk kepada negara dan rakyat Israel sekarang. Alkitab Perjanjian Baru berbicara tentang Israel sebagai umat pilihan yang diidentikkan dengan umat Kristen. Makna umat Allah dan bangsa pilihan dalam Perjanjian Lama tidak  historis; jadi bukan Israel yang sekarang terlibat konflik dengan Palestina saat ini tetapi umat Kristen.

Demikian juga, dukungan terhadap Israel karena sentimen agama-Islam juga tidak dapat dibenarkan. Rakyat Palestina, baik di Gaza dan di Tepi Barat, tidak semua beragama Islam; sebagian beragama Kristen. Jadi yang menderita karena penindasan Israel bukan hanya orang Islam tetapi juga orang Kristen.  Dengan pertimbangan yang sama, tidak dapat diterima jika sebagian kalangan Islam mendukung  Palestina karena anggapan bahwa Palestina dan rakyatnya adalah Islam.  Jadi, dukungan terhadap Palestina karena solidaritas Islam tidak seluruhnya benar karena yang menderita akibat serangan bom Israel terdapat juga orang Kristen.

Dukungan terhadap rakyat Palestina, korban penindasan dan serangan bom Israel diberikan, selayaknya didasarkan pada alasan HAM atau kemanusiaan. Bahwa rakyat Palestina berhak memiliki negara merdeka dan berdaulat. Mereka juga berhak untuk hidup dan tidak ditindas oleh bangsa lain. Di pihak lain, sikap anti terhadap Israel selayaknya terletak pada kebijakannya menduduki tanah Palestina dan menindas rakyatnya dengan cara-cara yang melanggar hukum internasional dan hak-hak asasi manusia.

Tentu yang diharapkan dan didoakan adalah masalah dan konflik Palestina-Israel dapat diselesaikan dengan cara damai, realistis dan adil bagi semua pihak sehingga terwujud kerukunan dan perdamaian.

Stanley R. Rambitan/Teolog dan Pemerhati Agama dan Masyarakat.

Dubes Palestina: Kekristenan Lahir di Palestina

Dubes Palestina: Kekristenan Lahir di Palestina
Pohon Natal besar, berdiri di depan Masjid Umar bin Khattab, di Bethlehem, Palestina (Foto-foto: Bayu Probo)

Dubes Palestina: Kekristenan Lahir di Palestina
Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Fariz N. Mehdawi, Duta Besar Palestina untuk Indonesia berbicara tentang hubungan antarpenduduk Palestina. Penduduk Palestina sejatinya beragam, etnis, agama, dan adatnya. Sehingga, menurut dia, perjuangan kemerdekaan adalah perjuangan sebuah bangsa tertindas, bukan perjuangan kelompok tertentu. Satuharapan.com mewawancarainya beberapa waktu lalu.

Satuharapan.com: Selama ini di Indonesia, kami mendapat kesan perjuangan Palestina adalah perjuangan berbasis agama. Bagaimana menurut Anda?
 
Fariz N. Mehdawi:  Rakyat Palestina berasal dari berbagai latar belakang. Bukan hanya Arab, melainkan juga Yahudi, Kaukasia, dan sebagainya. Orang Palestina juga tidak hanya menganut Islam. Kristen juga banyak. Di Palestina, orang tidak bisa menebak agama seseorang dari namanya. Abdullah belum tentu Muslim. Isa dan Maryam belum tentu Kristen, sebab Nabi Isa dan ibunya, Maria, adalah nabi yang sangat dihormati di dunia Islam. Orang Palestina juga tidak bisa dibedakan agamanya berdasarkan model pakaian yang dikenakan.
Mungkin saja di sini kesannya menjadi seperti itu karena perjuangan Palestina ini menarik digunakan untuk kepentingan pencitraan kelompok-kelompok tertentu.

Satuharapan.com: Namun, kesan itu begitu kuat.

Fariz: Ya, saya akui memang saudara-saudara Muslim Indonesia lebih ekspresif dan bersemangat dalam melakukan pembelaan terhadap perjuangan Palestina.  Tapi sebenarnya, secara nasional , Indonesia sudah mendukung perjuangan Palestina sejak zaman Presiden Soekarno. Ini bukanlah tentang perjuangan agama, ini perjuangan tentang bangsa yang ditindas bangsa lain.

Satuharapan.com: Apakah orang Kristen enggan mendukung perjuangan Palestina karena alasan keagamaan juga? Dalam Alkitab disebutkan, Israel adalah bangsa pilihan Tuhan.
 
Fariz: Menurut saya, jika Yesus hadir pada saat ini, Ia akan membela Palestina. Bukankah di Alkitab disebutkan Ia selalu berpihak kepada korban, bukan kepada penguasa? Dan, orang Kristen sejati seharusnya juga berpihak kepada korban kesewenang-wenangan.
Saya harus menekankan kembali bahwa perjuangan Palestina bukanlah perjuangan berbasis agama. Seperti Indonesia yang konstitusinya disusun bukan berdasarkan agama tertentu, Palestina, juga mengambil dasar negara sekuler yang menghormati kemanusiaan.
Jika, faktor agama merasuk dalam perjuangan kami, itu menyebabkan kesalahpahaman. Tentu saja, tidak semua rakyat Palestina akan terwakili dalam kehidupan bernegara. Kini, kami punya dua walikota Kristen, Vera Baboun di Bethlehem dan Janet Mikhail di Ramallah. Ini menunjukkan bahwa perjuangan kami bukanlah perjuangan agama, tetapi perjuangan melawan kolonialisme.

Satuharapan.com: Bagaimana dengan hubungan antarpenduduk Palestina?
 
Fariz: Di Palestina, saat Natal, orang yang datang ke sana bakal mengira penduduknya mayoritas Kristen, sebab semua merayakan dengan meriah. Saat Idul Fitri, orang akan mengira warga Palestina semua Muslim.
Yang menarik, di Palestina, kekristenan bukanlah agama impor. Agama lain berasal dari luar Palestina. Namun, kekristenan lahir di Palestina. Yesus lahir di Bethlehem, Palestina. Banyak kejadian yang tercatat di Injil, berlatar daerah Palestina.

Bahkan, penganut-penganut Kristen awal adalah orang-orang Palestina. Orang Kristen Palestina punya nenek moyang yang bisa jadi adalah orang-orang yang pernah bertatap muka dengan Yesus. Jadi, kekristenan adalah agama asli di Palestina.
Namun, lebih dari itu, perjuangan kami adalah perjuangan sebuah bangsa yang dijajah negara lain. Kelak, saat merdeka semua keputusan harus menjadi kesepakatan seluruh rakyat Palestina, tanpa membeda-bedakan latar belakangnya. Kami belajar dari Indonesia.

Dubes Palestina: Yesus Lahir di Palestina


Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz N. Mehdawi saat dijumpai di Kantor Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (16/7). (Foto: Martahan Lumban Gaol)


JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz N. Mehdawi menyetujui pesan Natal yang disampaikan Presiden Otoritas Palestina, Mahmud Abbas pada 2013, perihal pernyataan Yesus adalah orang Palestina. Menurutnya hal itu tepat, karena Palestina adalah tempat kelahiran Yesus dan agama Kristen. Yesus lahir di sebuah kota yang terletak di Palestina, yakni Betlehem.
“Yesus lahir di tanah Palestina, yakni di Kota Betlehem. Oleh karena itu saya juga katakan bahwa kekristenan lahir di Palestina,” ucap Fariz Mehdawi, saat kepada satuharapan.com, Rabu (16/7).

Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan oleh Presiden Otoritas Palestina, Mahmud Abbas dalam pesan Natal 2013 lalu. Saat itu, Mahmud Abbas menyebut Yesus adalah utusan Tuhan dari Palestina yang akan menjadi cahaya penuntun bagi jutaan umat manusia di seluruh dunia.
Menurutnya, konteks tersebut berdasarkan pada tempat kelahiran Yesus. Ia pun beranalogi dengan mengatakan bila seseorang lahir di Indonesia, maka dia adalah warga negara Indonesia.
“Bila Anda lahir di Indonesia, maka Anda menjadi orang Indonesia,” kata Fariz.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia itupun menyampaikan bahwa kekristenan bukan datang ke Palestina. Menurutnya, kekristenan dimulai di Palestina dan lahir di negara yang terletak di bagian barat benua Asia tersebut.
“Kekristenan tidak datang ke Palestina, tapi kekristenan dimulai dan lahir di Palestina,” tutur dia.
Oleh karena itu, menurutnya, bagi masyarakat Palestina Yesus adalah sebuah keajaiban, karena Ia lahir dari darah perawan Maria yang diberikan anugerah oleh Tuhan. Maria diberi anugerah oleh Tuhan untuk mengandung Yesus.
“Yesus adalah keajaiban dari Tuhan, karena Ia dilahirkan dari darah perawan Maria,” Fariz Mehdawi menegaskan.

Sabtu, 15 Februari 2014

Tujuh Purn. Jenderal Sebagai Dirut di Anak Perusahaan PT Toba Sejahtra


Foto: Istimewa.

Ketujuh Purnawirawan Jenderal yang bertemu dengan SBY beberapa waktu lalu dikabarkan satu kantor di Lantai 17 Wisma Bakrie 2 di HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Sejak  tahun 2011 Ketua Umum Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie  telah menggandeng tujuh orang Purnawirawan Jenderal itu untuk mendukungnya sebagai calon presiden. Karenanya, Ical menyiapkan beberapa lantai peruntukan kantor di Wisma Bakrie II di kawasan bisnis Kuningan, Jakarta Selatan. Kebanyakan mereka adalah lulusan Akademi Militer tahun 1970. Para Jenderal ini dikomandani Luhut Panjaitan. Subagyo HS sebelumnya aktif di Partai Hanura. Sementara Suaidi Marasabessy adalah wakil ketua Komisi Pengawas DPP Partai Demokrat.

Dari pantauan The Politic, Lantai 17 yang berada di Wisma Bakrie 2 tersebut merupakan kantor PT Toba Sejahtra yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, selaku pemimpin dari tujuh Purnawirawan Jenderal tersebut. Enam Purnawirawan Jenderal lain yaitu Jenderal (Purn) Subagyo  Hadisiswoyo (mantan KSAD), Jenderal (Purn) Fahrul Razi (mantan Wakil Panglima TNI), Letjen (Purn) Johny Josephus Lumintang (mantan Pangkostrad), Letnan Jenderal (Purn) Sumardi (mantan Komandan Komando Pendidikan dan Latihan TNI), Letjend (Purn) Agus Widjojo (mantan Kepala Staf Teritorial TNI), dan Letjend (Purn) Suady Marassabessy (mantan Kepala Staf Umum TNI).

Para Purnawirawan Jenderal itu dikabarkan sering berkumpul dan melakukan diskusi. Selain di ruangan kantor, diskusi juga sering digelar di kantin Wisma Bakrie 2 saat jam makan siang. Mereka berdiskusi tentang apa saja, mulai masalah bisnis, ekonomi, kebangsaan, dan tentu saja politik. Peserta diskusi itu tidak hanya para Jenderal tapi juga melebar ke sejumlah politisi. Para Purnawirawan Jenderal itu juga disebut tergabung dalam Tim Begawan yang dipimpin oleh Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut sendiri pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada era Presiden Gus Dur.

PT Toba Sejahtra masih tergolong baru namun pertumbuhan usaha perusahaan yang didirikan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan itu, bisa dibilang sangat pesat.  Sejumlah anak usaha bermunculan. Umumnya, anak usaha Toba bergerak di tiga bidang, yakni batubara dan migas, sumber daya energi, dan agrikultur (minyak sawit). Di bidang batubara, PT Toba Sejahtra mendirikan PT Toba Bara Sejahtra Tbk. Perusahaan itu membawahi PT Indomining, PT Trisensa Mineral Utama dan PT Adimitra Baratama Nusantara. Areal konsesi Toba Bara sekitar 7087 hektar, dengan estimasi sumber daya total 236 juta ton.

Di bidang minyak dan gas, PT Toba Sejahtra membuat anak usaha dengan nama PT Zenergi Mineral Langgeng dan Fairfield Indonesia. Dan, untuk urusan energi, dibentuk PT Pusaka Jaya Palu Power. Selain itu, PT Toba Sejahtra juga memiliki perusahaan yang bergerak di bidang agrikultur yang diberi nama PT Trisena Agro Sejahtra. Untuk menjalankan sejumlah perusahaan yang berada di bawah PT Toba Sejahtra itu, Luhut, lulusan Akabri tahun 1970, menggandeng sejumlah temannya sesama Jenderal.

Dari penelusuran The Politic di Wisma Bakrie 2, para Purnawirawan Jendral itu tidak semua berkantor di Lantai 17, melainkan tersebar di beberapa lantai gedung itu. Para Purnawirawan Jenderal itu menempati posisi penting dari anak perusahaan PT Toba Sejahtra. “Tujuh Jenderal ini tidak semua berkantor di lantai 17. Seperti Pak Suaidi itu di Lantai 16 di PT Trisensa Mineral Utama (TMU), Pak  Agus Widjojo di Lantai 12 tapi saya tidak tahu nama perusahaannya, dan Pak Johny J. Lumintang itu di Lantai 11 di PT Adimitra Baratama Nusantara. Selebihnya memang di Lantai 17 ini (PT Toba Sejahtra),” ujar resepsionis Gedung Wisma Bakrie II itu.

The Politic kemudian menyambangi PT Adimitra Baratama Nusantara yang berada di Lantai 11. Anak perusahaan PT Toba Sejahtra ini memiliki kantor lebih besar dan terlihat modern. Setelah keluar dari lift 1 Wisma Bakrie 2, posisinya berada di sebelah kanan. Sebelum masuk lewat pintu kaca, akan terlihat nama  PT Adimitra Baratama Nusantara beserta logo.

Setelah melewati pintu kaca menuju meja resepsionis, tepat di depan meja resepsionis terdapat ruang meeting dilengkapi televisi LCD dan bangku sofa berwarna abu-abu gelap beserta meja. Selain itu di belakang meja resepsionis tersebut terdapat ruangan para karyawan dan ruangan Direktur Utama PT Adimitra Baratama Nusantara. Menurut resepsionis, Letjen (Purn) Johny Josephus Lumintang berkantor di lantai tersebut. “Betul, Bapak sebagai Dirut (Direktur Utama) di sini,” ujarnya singkat.

Kemudian di Lantai 12 terdapat Yayasan Luhur Bina Prakarsa. Resepsionis Yayasan Luhur Bina Prakarsa membenarkan yayasan tersebut masih merupakan anak perusahaan PT Toba Sejahtra. Posisi Letjen (Purn) Agus Widjojo sebagai Ketua Umum yayasan  yang bergerak di bidang Konsultan Politik. “Orang Golkar kebanyakan. Kan Bapak orang Golkar,” cetusnya. Namun menurut Intan, sekretaris Agus Widjojo, yayasan tersebut merupakan transformasi dari nama perusahaan sebelumnya yang bergerak di bidang konsultan politik dan tidak semuanya berafiliasi ke Golkar, bisa saja untuk konsultasi politik partai lain dan para politikus. Masih menurut keterangan Intan, hingga saat ini hanya Demokrat dan Gerindra yang belum pernah menggunakan jasa yayasan tersebut.

“Nama Yayasan Luhur Bina Prakarsa sebenarnya baru, bukan hanya bergerak di bidang konsultan politik saja, dulu memang iya bergerak di bidang itu, namun sekarang setelah adanya transformasi, kami juga menyediakan out bound, dan lainnya,” jelas Intan. Yayasan tersebut rupanya sedang ada penyusunan struktur organisasi baru dan pembenahan lainnya. Sehingga belum bisa menjelaskan secara rinci siapa saja Jenderal lain yang juga bergabung di perusahaan yang diketuai oleh Letjen (Purn) Agus Widjojo tersebut.

Selain yayasan tersebut, Agus juga memiliki yayasan lain. “Ada yayasan lain di luar milik Pak Agus, bergerak di pendidikan (sekolah, -red), tapi saya juga kurang begitu paham untuk yang diluar,” ujar sekretaris Agus. Yayasan Luhur Bina Prakarsa tersebut terletak paling pojok. Jika keluar dari lift 1 Wisma Bakrie 2 belok kiri menuju lorong hingga menemukan sebuah ruangan. Kantor ini tidak terlalu besar. Didominasi pula dengan tembok yang dilapisi kayu berwarna cokelat muda. Pintu masuk karyawan berada tepat di sebelah kiri meja resepsionis.

The Politic juga mendatangi PT Trisena Agro Sejahtera di Lantai 16. PT Trisena Agro Sejahtera ini merupakan anak perusahaan PT Toba Sejahtra yang bergerak di bidang perkebunan dan Letjen (Purn) Suaidi Marasabessy sebagai Direktur Utama. “Bapak sedang tidak ada, minggu-minggu ini sedang sibuk di partainya, Demokrat,” ujar salah satu pegawai.

Pada Sabtu (23/3), kepada The Politic, Suaidi membenarkan bahwa ketujuh Purnawirawan Jenderal itu menduduki posisi sebagai Dirut di anak perusahaan PT Toba Sejahtra. Menurutnya, masih ada satu lantai lagi anak perusahaan yang dipegang Jenderal di lantai 20 yang digunakan untuk lembaga pengkajian ekonomi, politik, bisnis, dan kebangsaan. Namun Suaidi tidak memberitahukan nama resmi lembaga kajian tersebut dan Dirutnya.

Suaidi juga sering bertemu dengan Purnawirawan Jenderal lain pada saat makan siang. Namun bukan hanya dilakukan di kantin saja, terkadang di Lantai 20. “Bukan hanya kami-kami saja (tujuh Purnawirawan Jenderal). Kalau memang diajak diskusi dengan politikus profesional, ya kami kumpul dan itu melihat bagaimana waktu Pak Luhut juga, kalau Pak Luhut tidak ada dan sedang berada di luar negeri seperti sekarang ini, ya kita atur jadwal kembali,” pungkasnya. Sopan, Leonina K Lahama.

Sumber: Tabloid The Politic Edisi 11 Tahun 2

150 Jenderal Berkumpul, Bentuk Dewan Revolusi Rakyat

JAKARTA – Ratusan purnawirawan jenderal dan perwira menengah TNI kembali menyatukan barisan untuk ‘menjatuhkan’ atau melengserkan kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Alasannya, para jenderal itu, pemerintahan SBY tidak bisa lagi diharapkan mensejahterakan rakyat, menegakkan hukum, memberantas korupsi, dan persoalan bangsa lainnya. Informasi yang diterima, sekitar 150 purnawirawan TNI berkumpul di Jakarta, dan hadir dalam pertemuan ini antara lain Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto, Mustahid Astari, Tommy (PETA). Ketiganya mengatasnamakan dari Gerakan Revolusi Nurani (GRN).

Dalam pertemuan itu dikeluarkan pernyataan Tri Komando Nurani: Turunkan SBY dengan mobilisasi umum, Bentuk Dewan Revolusi Rakyat, dan Kembali ke UUD 1945 asli. “Sebanyak 150 purnawirawan itu sudah sepakat untuk melengserkan pemerintahan SBY dengan mobilisasi umum,” kata Indro Tjahyono yang dikenal dekat dengan sejumlah jenderal purnawirawan, Selasa pagi (20/12). Menurutnya, pertemuan 150 purnawirawan TNI itu disambut 20 jenderal lainnya, termasuk Jenderal (Purn) Prabowo Subianto dengan membuat aksi keprihatinan bangsa pada pertengahan Desember ini.

“Prabowo dkk menyatakan aksi keprihatinan terhadap kondisi bangsa saat ini, dan hal ini sah-sah saja. Tapi, kalau 150 purnawirawan itu sudah clear, artinya menjatuhkan SBY secara inkonstitusional,” ujar Indro. Menurut Ketua DPP Hanura, partai yang didirikan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto ini, para purnawirawan itu juga menyatakan optimis pemerintahan SBY tidak akan sampai 2014. “Itulah sebabnya mereka terus melakukan penggalangan kepada rakyat untuk mengkritisi pemerintahan SBY, yang pada akhirnya melakukan aksi penggulingan,” ujar Indro.

Sementara itu, mantan Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat, Mayor Jenderal Purnawirawan Saurip Kadi sangat mendukung langkah para Jenderal senior Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang akan berkumpul di Bandung, Jawa Barat pada perengahan bulan Desember nanti. “Saya sangat mendu-kung langakah para Jenderal senior SBY tersebut. Kalau bukan senior, siapa lagi yang akan mengingatkan SBY,” kata Saurip Kadi dalam perbincangannya dengan Teraspolitik.com melalui telepon selularnya, Jum’at (25/11).

Kecewa Diinformasikan, selain Tyasno dkk dari GRN, dari kelompok jenderal lain, sekitar 19 orang, juga kerap berkumpul di rumah Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan, Jenderal (Purn) Jhony Lumintang, Jenderal (Purn) Fahrur Rozi, dan lainnya. “Mereka sering berkumpul di rumah Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan yang juga mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Reformasi masa Presiden Abdurrahman Wahid,” kata Ketua MK Mahfud MD, beberapa waktu lalu. Menurutnya, para jenderal itu menyatakan kecewa dengan pemerintah.

“Beberapa mantan jenderal yang sering bertemu di rumah Luhut Panjaitan antara lain, Letnan Jenderal purnawirawan Jhony Lumintang, Jenderal purnawirawan Fahrur Rozi, Letjen (Purn) Agus Wijoyo, Jenderal (Purn) AM Hendropriyono, dan Letjen (Purn) Kiki Syahnakri. “Setidaknya ada sekitar 19 para purnawirawan jenderal yang kerap bertemu di kediaman Luhut Panjaitan. Mereka mengatakan, pemerintahan ini mengecewakan. Pemerintahan ini lambat,” ujar Mahfud, yang juga mantan Menteri Pertahanan. Hal senada juga dikemukakan mantan Wakil Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, menurutnya, para mantan jenderal sering melakukan pertemuan. “Para jenderal itu hampir setiap hari berkumpul dan bertemu, karena mereka berkantor di gedung yang sama, di Kuningan, Jakarta,” ujar Fahrul.
Sumber : Harian Terbi

Kamis, 12 September 2013

Timbunan Emas Zaman Byzantium Ditemukan di Yerusalem


Arkeolog Israel menggali sekumpulan emas zaman Byzantium di Kota Lama di Yerusalem, kata Hebrew University of Jerusalem pada Senin.

Direktur penggalian Eilat Mazar menjelaskan penggalian 36 koin emas, sebuah medali emas bergambar sebuah lilin ritual Yahudi ,dan satu set perhiasan emas dan perak tersebut sebagai “penemuan mencengangkan yang hanya terjadi sekali seumur hidup.”

Sebuah pernyataan menyebutkan bahwa harta itu ditemukan sekitar 50 meter dari dinding selatan di kompleks masjid Al Aqsa, yang dikenal oleh Yahudi sebagai Temple Mount dan dihormati sebagai situs tempat ibadah Yahudi bagi raja Salomo dan Herod.

Mazar, dari Hebrew University Institute of Archaeology, mengatakan bahwa meskipun penggalian itu dilakukan di area yang sama tempat ditemukannya artefak dari masa Salomo, yang menurut tradisi Yahudi diratakan oleh kaum Babilonia pada 586 SM, penemuan peninggalan abad ketujuh itu benar-benar tidak disangka-sangka.

“Sepertinya penjelasannya yang paling mungkin adalah bahwa...simpanan itu ditujukan sebagai kontribusi untuk pembangunan sebuah sinagog baru, di sebuah tempat yang dekat dengan Temple Mount,” kutip pernyataan tersebut.

“Satu-satunya hal yang jelas adalah misi mereka – apa pun itu - tidak berhasil. Harta itu terabaikan, dan pemiliknya tidak pernah bisa kembali untuk mengambilnya.”

Mazar memperkirakan harta itu tertinggal ketika Persia menguasai Yerusalem pada abad ke-614 Masehi, kata pernyataan tersebut.

“Setelah Persia menguasai Yerusalem, banyak kaum Yahudi yang kembali ke kota itu dan membentuk mayoritas populasi mereka, berharap mendapat kebebasan politik dan beragama.”

“Namun saat kekuasaan Persia berkurang, alih-alih membentuk sebuah aliansi dengan Yahudi, Persia malah mencari dukungan dari umat Kristen dan akhirnya membuat mereka dapat mengusir kaum Yahudi dari Yerusalem.”

Selasa, 16 Juli 2013

Menteri Kulit Hitam Italia Pertama Dihina Mirip Orangutan

Hinaan menteri kulit hitam pertama Italia


TRIBUNNEWS.COM, MILAN - Wakil Presiden Senat Majelis Tinggi Italia, yang juga merupakan pemimpin anti-imigran Partai Liga Utara, Roberto Calderoli, didesak mengundurkan diri setelah menjuluki Menteri Imigrasi Italia, yang berkulit hitam, Cecile Kyenge, sebagai orangutan.
Roberto membuat pernyataan itu dalam rapat umum Partai Liga Utara.
"Ketika saya melihat gambar Kyenge dia memiliki kemiripan dengan orangutan," ujarnya, seperti diberitakan oleh Dailymail, Senin (15/7/2013).

Namun Roberto membela diri, ia mengatakan, pesan itu ia sampaikan dalam ranah politik, di mana dimaksudkan untuk mengkritik kebijakan Kyenge.
"Saya tidak bermaksud menyinggungnya dan jika Menteri Kyenge tersinggung saya minta maaf, tapi komentar saya dibuat dalam ranah politik yang lebih luas yang mengkritik menteri dan kebijakannya," katanya.
Setelah mendapat kecaman luas oleh media internasional, akhirnya Roberto bersedia meminta maaf secapa pribadi kepada Kyenge. "Dia telah melakukan terbaik menjadi menteri, tapi mungkin ia harus melakukannya di negara sendiri," katanya.

Kyenge, merupakan seorang dokter kelahiran Kongo dimana ia telah tinggal di Italia sejak tahun 1983. Wanita yang diangkat menjadi menteri pada bulan April, menolak mengomentari ucapan Roberto.
Perdana Menteri Italia, Enrico Letta berang mendengar celaan Roberto. Ia mengatakan hinaan tersebut tidak dapat diterima dan melampaui segala batas. Sejumlah menteri di kabinet Enrico juga menuntut Roberto mundur dari senat. (dailymail)

Sabtu, 13 Juli 2013

Seorang Bayi Ditusuk 90 Kali Oleh Ibunya







Beruntung, mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi Xiao Bao, bayi laki-laki berusia 8 bulan di Cina. Ia masih bertahan hidup walau mendapat 90 tusukan di wajah.

Cerita sadis ini datang dari Xuzhou, provinsi Jiangsu, Cina Timur. Paman Xiao Bao menemukan bayi montok itu terbaring di depan rumah bermandikan darah. Ia pun langsung membawa keponakannya yang malang itu ke rumah sakit.

Seperti dilansir Dailymail, ibu Xiao Bao mengaku ialah yang menusuk anaknya berkali-kali. Alasannya? Xiao Bao menggigit sewaktu disusui. Akibat kekejaman ibunya sendiri, Xiao Bao mendapatkan 100 jahitan lebih untuk menutupi lukanya. Kini kesehatannya sudah pulih, hanya saja bekas tusukan masih tampak jelas di sekujur wajah.

Para tetangga sudah meminta pemerintah untuk mencabut hak asuh Xiao Bao dari ibunya, tapi permintaan itu ditolak. Alasannya tak ada bukti bahwa ibu Xiao Bao mengalami kelainan jiwa yang bisa membahayakan anaknya.

Dikutip dari Telegraph, menurut data tahun 2009, ada 173 juta penduduk Cina yang mengalami gangguan mental tapi tak pernah mendapat penanganan secara profesional.