Suatu hari saya iseng membuka kumpulan album lama saya ketika masih
aktif menjadi perwira TNI. Entah mengapa, saya mengambil sebuah foto,
memperlihatkan saya duduk dikelilingi para pengasuh Pondok Modern
Darussalam Gontor di Ponorogo, Madiun. Ketika itu saya menjadi Komandan
Korem (Danrem) 081 di Madiun pada tahun 1995.
Tugas sebagai Danrem adalah penugasan non-tempur pertama bagi saya, maka tidak mengherankan saya betul-betul
all-out
melakukannya. Seperti diketahui, wilayah teritorial yang harus saya
bina cukup luas, meliputi Kabupaten Pononogo, Kabupaten Ngawi, Kabupaten
Pacitan, Kabupaten Magetan, Kabupaten Madiun dan Kotamadya Madiun.
Masyarakatnya adalah Muslimin yang taat beribadah. Pondok Modern
Darussalam Gontor yang terkenal di Indonesia ada disana. Reog yang
terkenal di seluruh Indonesia, berasal dari Ponorogo. Jadi saya juga
mengenal dekat kampung Presiden SBY yaitu Pacitan.
Ini merupakan pekerjaan-pekerjaan baru yang sebelumnya amat asing
bagi saya. Bagaimana tidak, hampir 21 tahun sebelumnya, karir saya
selalu berkutat dengan persoalan “kekerasan” (
seek and destroy).
Sebagai prajurit tempur di Kopassus, ilmu yang saya pelajari adalah
bagaimana misalnya merusak pintu dengan cepat, menembak, dan berhubungan
dengan strategi penyerangan.
Tapi menjadi komadan teritorial, kini saya dituntut juga untuk
bagaimana bisa turut membangun masyarakat. Sehingga saya harus mengenal
soal IDT (Instruksi Presiden untuk Desa Tertinggal), mengurusi warga,
memilih sampai menanam bibit jambu mete, dan banyak sekali
persoalan-persoalan yang amat berbeda dari pola kerja terdahulu.
Pengalaman di Jawa Timur juga pengalaman saya pertama bersentuhan
dengan kultur orang Jawa, lebih tepatnya orang Jawa Timur. Memang,
ketika dididik di Akabri di Magelang, sedikit banyak saya telah
berinteraksi dengan masyarakat Jawa disekitar Magelang hingga
Yogyakarta, tetapi lingkupnya terbatas. Meski istri saya berasal dari
Tapanuli, tetapi hidupnya dihabiskan di tanah Pasundan (Jawa Barat).
Sehingga yang terasa kental ya budaya Sunda-nya. Saya juga sekolah SMA
di Bandung, dan sebelumnya tinggal dengan orang tua saya di Riau. Jadi
kami berdua benar-benar menikmati tugas di Jawa Timur ini.
Kendati demikian, saya menyadari betul suasana baru tersebut. Ini
pula yang mengubah gaya kepemimpinan saya. Kalau di Kopassus, misalnya
ada anak buah yang tidak beres dalam pekerjaannya, tentu saya bersikap
keras. Tapi pada jabatan Komandan Teritorial di Madiun ini saya tentu
harus menurunkan ritme. Bahkan karena menduduki jabatan yang bersentuhan
langsung dengan masyarakat setempat, sekarang saya sudah lupa caranya
untuk marah.
Saya teringat suatu kali saya lihat anak buah saya ada yang murung
dan duduk termenung sendirian. Saya tegur, “Eh Bung, kenapa kau?” sambil
saya tepuk bahunya. Lalu dia bercerita bahwa ia sedang merindukan
pacarnya yang berada di Jawa Tengah. Mendengar ceritanya, saya lalu
mengizinkannya untuk meninggalkan markas. “OK, boleh kau pergi sekarang.
Bukan dua hari tapi saya beri waktu seminggu. Tapi ingat harus pulang
tepat waktu,” perintah saya kepadanya. Dia tersentuh dan setelah kembali
ke tugas, ia bersemangat lagi.
Seorang pemimpin itu menurut saya haruslah menanamkan pengertian yang
jelas soal hak dan kewajiban kepada mereka yang kita pimpin. Berikan
apa yang betul-betul menjadi hak mereka, sebaliknya mereka juga harus
mengerti betul kewajibannya dalam melaksanakan tugas.
Saya belajar tentang pesantren. Ini juga merupakan dunia baru yang
sebelumnya tidak saya kenal. Saya jadi mengetahui dan memahami betapa
peran penting dunia pondok pesantren dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa.
Saya tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada pesantren, maka
sekitar puluhan juta penduduk Indonesia tidak akan pernah mengenyam
pendidikan. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan upaya pembangunan
manusia seutuhnya. Dan ini telah dilakukan oleh dunia pesantren.
Pesantren punya andil besar dalam hal ini. Dan saya bersyukur pimpinan
waktu itu memberikan kepercayaan kepada saya memimpin teritorial,
sehingga saya mengenal dunia pesantren.
Jadi setelah saya dilantik menjadi Danrem, kepada Kepala Staf Korem
(Kasrem) yang sudah menempati posnya lebih dahulu, saya minta untuk
mengatur komunikasi tatap muka dengan para pemuka masyarakat di
tempat-tempat yang merupakan tanggungjawab saya. Saya berniat
mengunjungi sebanyak mungkin pondok pesantren yang ada, baik yang
terkenal seperti Gontor maupun puluhan pesantren lain yang tersebar di
seluruh Kabupaten.
Sebagai orang yang beragama Kristen, saya tidak mempunyai rasa
was-was atau minder untuk bergaul dengan sesama satu bangsa yang
kebetulan agama dan kepercayaannya berbeda dengan saya. Seperti saya
ceritakan pada awal, keikutsertaan saya dalam Pasukan Perdamaian PBB di
Mesir membuka wawasan saya mengenai Timur Tengah, mengenai Islam dan
budayanya. Saya belajar bahwa agama Islam adalah agama perdamaian, agama
yang menghormati perbedaan, agama yang melindungi kaum yang lemah.
Ketika kemudian berkesempatan mengunjungi Pondok Modern Darussalam
Gontor (PMDG), saya makin kagum melihat kinerja mereka. Ketika itu saja
jumlah santri dan santriwatinya hampir 10 ribu orang. Sesuai dengan
predikat kata “modern” dalam namanya, maka mereka tidak hanya belajar
mengaji, tetapi juga belajar berbagai ilmu modern, termasuk bahasa
Inggris. Konon dalam satu minggu, ada satu hari dimana seluruh isi
pesantren harus berbicara dalam bahasa Inggris. Hebat sekali! Tidaklah
mengherankan, PMDG menghasilkan para tokoh nasional seperti Dr. Hidayat
Nur Wahid, Din Syamsudin, Muhammad Basyuni dan alm. Nurcholis Madjid.
Karena pengalaman di Timur Tengah itu, saya berani bersilaturahim
dengan berbagai pesantren yang ada di wilayah tanggungjawab saya. Saya
tidak ingat benar, berapa pesantren yang saya kunjungi tetapi karena
saya datang dengan iklas dan hati bersih; umumnya sambutan para kiai
sangat baik. Dan komunikasi yang setara berhasil saya bangun di Madiun.
Tidak ada masalah SARA (Suku, Agama, Ras dan antar golongan) yang
terjadi selama saya menjabat sebagai Danrem.
Jadi Danrem di Madiun itu unik. Di bagian utara terdapat wilayah
pegunungan, sementara di bagian selatan, di Pacitan ada laut; jadi
wilayah binaan saya ada bagian gunung dan daratan rendah tetapi juga ada
Samudra Hindia. Di Madiun terdapat pangkalan udara TNI-AU paling
penting dan paling besar yaitu Lanud Iswahyudi. Begitu pentingnya
sehingga Komandan Pangkalan (Danlanud) berpangkat Marsekal Pertama,
bintang satu, padahal jabatan fungsional saya dalam sistem pemerintahan
Orde Baru adalah Ketua Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah), padahal
pangkat saya Kolonel. Jadi perlu seni tersendiri bagaimana memimpin
Muspida dimana anggotanya ada yang berpangkat lebih tinggi dari saya.
Dan juga lebih senior.
Ketika Kasad Pak Wismoyo mengadakan lomba Korem terbaik, saya
terpilih menjadi Danrem terbaik. Saya gembira sekaligus bangga karena
menunjukkan bahwa saya, prajurit Baret Merah mampu memimpin sebuah
komando teritorial. Banyak hal yang saya peroleh pada jabatan yang saya
emban selama satu tahun setengah kala itu. Terutama adalah bagaimana
akhirnya saya belajar mengenal kultur Jawa dan masyarakatnya.
Hal lain yang merupakan sesuatu yang baru selama menjadi Danrem
adalah berhubungan dengan Pemda, berurusan dengan masyarakat miskin di
desa-desa tertinggal, dan sebagainya.
Selama satu setengah tahun memimpin Korem Madiun paling tidak kami
telah melakukan kegiatan-kegiatan kecil tapi konkret dan mudah
dilaksanakan, yang dapat langsung membantu masyarakat kecil di pedesaan.
Melalui kerjasama dengan beberapa instansi seperti Bank dan Yayasan
Bhakti Persatuan, waktu itu Korem Madiun telah dapat merealisasikan
beberapa kegiatan usaha di bidang pertanian, peternakan, pipanisasi air
bagi rakyat. Selain itu Korem Madiun juga telah menanam sejuta pohon
produktif di sejumlah wilayah tandus seperti di Pacitan waktu itu.
Untuk anak-anak muda, pesan saya, seorang pemimpin itu harus memiliki
rasa cinta kepada masyarakat yang dipimpinnya. Dan untuk memimpin
haruslah dengan hati, selain kapabilitas yang baik, kemampuan yang baik
dalam memimpin, juga harus cerdas dan selalu mengedepankan hati dalam
setiap membuat keputusan. Sehingga sebuah kemajuan itu bisa dicapai
secara bersama-sama. Bukan saja hanya menjadi kesuksesan seorang
pemimpin saja, tapi masyarakat yang dipimpin juga akhirnya bisa merasa
bangga atas keberhasilan yang telah dicapai.
Sungguh amat disayangkan jika ada keberhasilan seorang pemimpin namun
masyarakat yang dipimpinnya tidak mengakui keberhasilan tersebut,
sebaliknya hanya keburukan dari pemimpin itu saja yang selalu teringat
di masyarakat.