Indah Pada Waktunya
Tampilkan postingan dengan label Tentang Jokowi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Jokowi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juli 2014

Pesan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia kepada Jokowi

14057790451718175583

Calon Presiden RI pilihan rakyat RI, Joko Widodo, mengisi waktu penanti hasil Pilpres 2014 dengan mengunjungi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), pada 19 Juli 2014 Rombongan Jokowi diterima oleh Ketum PGI, Dr Andreas Yewangoe dan beberapa anggota pengurus PGI di Kantor PGI, Salemba Raya, Jakarta Pusat.
Menurut Jokowi, “Kehadiran di ke PGI merupakan silaturahmi dan sekaligus mengucapkan terima kasih atas doa umat kristiani atas lancarnya pemilihan presiden. Umat Kristiani merupakan bagian dari rakyat, dan perlu melakukan silaturahmi, …”

Pada kesempatan yang sama, Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Pendeta Andreas Yewangoe,  berpesan kepada calon presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo,
“Jaga hakikat dan identitas bangsa kita yang majemuk, di mana Pancasila tidak hanya diucapkan, tapi juga dijalankan. Bangsa yang terdiri dari suku-suku ini bisa setara. Itu harus menjadi komitmen.”
Di samping itu, PGI, menurut Pdt Andreas Yewangoe,
” … mengapresiasi jalannya pemilu presiden yang diawali dengan pemilihan kursi legislatif terlebih dahulu. Pesta demokrasi lima tahunan rakyat Indonesia itu memberikan dampak besar bagi pilihan politik rakyat Indonesia. Hal itu terlihat dari seakan-akan terbelahnya sikap rakyat Indonesia saat menanggapi pilpres.

Namun kini, penyelenggaraan Pilpres sudah selesai. Perbedaan pandangan politik, lanjut Andreas, merupakan hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah jika perbedaan tersebut menjadi dasar terjadinya konflik horizontal setelah pilpres terselenggara.

Kami menyerukan perdamaian. Mari sama-sama jaga ketenangan dan kedamaian sampai tanggal 22 Juli dan seterusnya. Presiden yang terpilih adalah presiden rakyat Indonesia, siapapun itu,”
Agar diketahui bersama, sejak Pemilu Legislatif hingga Pilpres, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), dan juga Konfrensi Waki Gereia di Indondoensia (KWI)n Umum (KPU), menempatkan diri secara netral dan tidak berpihak kepada Parpol dan Kandidat Presiden. 

PGI dan KWI, secara bersama mengeluarkan Surat Pastoral yang antara lain berbunyi, “Pilihlah yang Jujur dan Santun! Dunia politik penuh dengan kebohongan dan ketidaksantunan. Para politisi kita juga mudah sekali tersulut emosi dan melakukan kebohongan dengan menebar janji-janji palsu. Karena itu, cermatilah politisi jenis ini dan jangan memilih mereka! Ke depan, kita membutuhkan politisi yang jujur dan santun dalam berkomunikasi dengan rakyat.”
Penempatan sebagai lembaga keagamaan yang netral dan tidak berpihak tersebut, sekaligus merupakan bentuk kerpisahan antara Gereka dan Negara serta tidak mencampuri urusan pilihan politik warga gereja atau umat Kristen. Juga, dengan pertimbangan bahwa ada banyak umat Kristen pada masing-masing kubu Kandidat Presiden sebagai tim sukses ataupun pendukung dalam rangka kemenangan kandidat tersebut
=====

Hari-hari belakangan ini, ketika suhu politik dan sikon bangsa yang rada menghangat, menanti hasil Pilpres yang lalu dari KPU Pusat, PGI dan KWI telah mengeluarkan Surat Pastora, sebagai berikut
Seruan Bersama PGI-KWI Kepada Umat Kristiani untuk Tenang Menanti Pengumuman Hasil Definitif Pilpres 2014 dari KPU
Pemilu Presiden telah kita lewati bersama dengan suasana damai dan kondusif. Rakyat Indonesia sudah menentukan pilihan terhadap salah satu dari dua pasangan calon yang ada, Prabowo Subianto – Hatta Rajasa atau Joko Widodo – Jusuf Kalla. Partisipasi rakyat dalam Pemilu Presiden tersebut sangat kami hargai.
Namun setelah beberapa jam pelaksanaan Pilpres, persoalan muncul karena adanya “Quick Count” (hitung cepat) dari beberapa lembaga dan hasilnya berbeda. Atas dasar hasil Quick Count tersebut, kedua pasangan calon mengklaim diri sebagai pemenang. Padahal hasil Quick Count ini belum tentu menjadi hasil akhir, sebab hasil akhir baru akan ditentukan pada 22 Juli 2014 nanti oleh KPU.
Klaim kemenangan pasangan calon ini telah membuat resah masyarakat. Karena itu, kami khawatir hal ini akan mengarah kepada konflik antarpendukung pasangan calon. Berdasarkan pertimbangan itu, maka kami menyerukan beberapa hal kepada umat Kristiani.

Pertama, Umat Kristiani agar tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh euforia dan selebrasi kemenangan yang telah dilakukan kedua pasangan calon, sebab sampai saat ini belum ada pemenang. Pemenangnya baru akan ditentukan dan diumumkan secara resmi oleh KPU pada 22 Juli 2014 yang akan datang. Karena itu, tetaplah bersabar menunggu proses yang sedang berlangsung sampai saat yang sudah ditentukan. Janganlah terpengaruh untuk ikut melakukan kekerasan. Secara khusus kepada Umat Kristiani yang menjadi bagian dari Tim Pemenangan ataupun pendukung pasangan calon, kami harapkan agar Anda menahan diri dan dengan rendah hati bersedia menunggu proses rekapitulasi yang sedang berlangsung. Kami berharap Anda tidak berinisiatif dan melibatkan diri dalam upaya-upaya negatif yang bisa merugikan rakyat banyak.

Kedua, Umat Kristiani agar tetap memegang teguh prinsip-prinsip hidup Kristiani yang berlandaskan kasih dan memegang teguh nilai-nilai demokrasi, sebagai penghargaan terhadap prinsip-prinsip dasar hidup berbangsa dan bernegara. Secara khusus kami berpesan kepada Umat Kristiani yang menjadi bagian dari Tim Pemenangan ataupun pendukung pasangan calon, hendaknya tidak mengorbankan prinsip-prinsip Kristiani yang abadi tersebut hanya demi kepentingan politik yang sifatnya temporer, apalagi hanya sebatas kepentingan untuk lima tahun kedepan.
‎​Akhirnya, kami mengajak Anda semua untuk mengawal dan mengawasi proses rekapitulasi yang sedang berlangsung guna menghilangkan kecurangan dan manipulasi, sehingga hasilnya nanti sungguh-sungguh murni sebagai pilihan rakyat.
Jakarta, 15 Juli 2014
Atas nama
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
Pdt. Dr. A. A. Yewangoe (Ketua Umum) dan Pdt. Gomar Gultom, M.Th (Sekretaris Umum)
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
Mgr. Ignatius Suharyo (Ketua) dan Mgr. Johannes Pujasumarta (Sekretaris Jenderal)

Selasa, 20 Mei 2014

Jokowi ~ JK Mendaftar ke KPU Sebagai Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden

 JOKOWI - JK BERSEPEDA KE KPU

 JOKOWI - JK BERSEPEDA KE KPU

 JOKOWI - JK BERSEPEDA KE KPU

 JOKOWI-JUSUF KALLA TIBA DI KPU

 JOKOWI-JUSUF KALLA TIBA DI KPU

 JOKOWI-JK MENDAFTAR PILPRES

 JOKOWI - JK MENDAFTAR PILPRES

 JOKOWI - JK MENDAFTAR PILPRES

 JOKOWI - JK MENDAFTAR PILPRES

 JOKOWI - JK MENDAFTAR PILPRES

JOKOWI - JK MENDAFTAR PILPRES



JOKOWI - JK MENDAFTAR PILPRES

Simpatisan pasangan capres-cawapres yang diusung koalisi partai PDI Perjuangan, Partai NasDem, PKB, dan Partai Hanura Joko Widodo-Jusuf Kalla melukis wajahnya sebagai bentuk dukungan di halaman Kantor KPU, Jakarta, Senin (19/5). Pasangan capres-cawapres Jokowi-JK menjadi pasangan pertama yang mendaftar untuk mengikuti Pilpres pada 9 Juli 2014. ANTARA FOTO/Andika Wahyu/Spt/14.


Sabtu, 29 Maret 2014

Jokowi berencana gugat MNC Grup terkait iklan 'Kutagih janjimu'

Jokowi berencana gugat MNC Grup terkait iklan 'Kutagih janjimu'

MERDEKA.COM. Bakal calon presiden dari PDIP Joko Widodo (Jokowi) tengah mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum terkait iklan 'Kutagih janjimu' yang menyerang dan menyudutkannya. Menurut Jokowi, iklan tersebut jelas menyudutkannya.

"Kita sedang diskusikan mengenai iklan itu. Kita juga akan pertimbangkan ambil langkah hukum," ujar Jokowi usai makan siang di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (29/3).

Jokowi mengetahui bahwa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang telah memberikan teguran kepada ke tiga stasiun televisi yang menayangkan iklan tersebut. Namun Jokowi menilai, perlu ada tindakan juga dari PDIP.

"Memang sudah mendapat teguran dan tindakan dari KPI, tapi kita juga masih dalam proses, sedang didiskusikan. Nanti kemungkinan Senin akan ada keputusannya," terangnya.

Jokowi menyayangkan maksud pemasangan iklan itu. Menurutnya iklan itu tidak memberikan edukasi, melainkan menumbuhkan nilai negatif.

"Pertama, itu negative campaign, kedua, iklan itu menggunakan wajah saya tanpa izin," tegasnya.

Terkait iklan yang hanya muncul di stasiun televisi milik MNC Group, Jokowi juga meyakini kalau iklan tersebut dibuat oleh pemilik MNC yang saat ini menjadi bakal cawapres Partai Hanura, Harry Tanoesoedibjo.

"Sudah jelas itu (dibuat Hary Tanoe), jelas, kan cuma di grup dia (Harry Tanoe) saja," pungkas Jokowi.

Kamis, 27 Maret 2014

PDIP: Megawati Tak Akan Cawe-cawe Jokowi

Jokowi Belum Pikirkan Calon Wakilnya  

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Effendi Simbolon menjamin bahwa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bukanlah calon presiden boneka atau hanya menjadi kepanjangan tangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. 
Menurut Effendi, anggapan sejumlah pihak bahwa Jokowi bakal diintervensi Mega jika kelak menjadi presiden tak akan pernah terjadi. "Jangankan ke presiden, ke gubernur-gubernur yang berasal dari PDIP saja Mega tidak penah intervensi," katanya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu, 22 Maret 2014. (Baca: Sindir Jokowi Lagi, Prabowo: Kau Pembohong, Maling).

Effendi mengatakan Mega hanya akan memberikan garis-garis besar partai kepada kader Partai Banteng yang menjadi pemimpin di pemerintahan, misalnya kader yang menjadi gubernur. "Demikian juga nanti kalau Pak Jokowi menjadi presiden," ujar Effendi.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto meminta rakyat menetapkan pilihan yang benar dalam pemilu mendatang. "Kalau salah memilih, rakyat tidak hanya akan sengsara pada lima tahun berikutnya, tapi hingga anak-cucunya," katanya di Sragen, Jawa Tengah, Ahad, 16 Maret 2014. (Baca: Jokowi: Abraham Samad Pantas Jadi Presiden).

Secara khusus, Prabowo meminta kader Gerindra dan masyarakat tidak memilih koruptor serta yang berwatak Kurawa atau Sengkuni dalam pemilihan presiden. "Juga jangan memilih capres boneka," ujarnya. Pernyataan ini menyindir Jokowi. Jokowi dinilai hanya menjadi kepanjangan tangan Mega.
Pernyataan tersebut diulangi lagi oleh Prabowo saat diwawancarai wartawan setelah berorasi. Prabowo mengingatkan masyarakat agar memilih presiden yang Pancasilais, berani memberantas korupsi, tidak tunduk pada kekuatan asing, dan tidak menjadi boneka orang lain. (Baca: Jokowi: Saya itu Ndeso, Miskin Koneksi).

PRIHANDOKO

Jokowi: Masyarakat Sudah Pintar Memilih

Jokowi: Masyarakat Sudah Pintar Memilih

Jakarta (Antara) - Calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo (Jokowi) menilai masyarakat saat ini sudah pandai memilih, sehingga kampanye dengan cara saling menjelekkan tidak akan efektif.

"Masyarakat tidak bodoh. Mereka sudah pintar, sudah bisa memilah-milah," kata Jokowi usai makan siang di daerah Cipayung, Jakarta Timur.
Hal tersebut dikemukakan Jokowi terkait kekhawatiran sejumlah pengamat jika nanti Jokowi terpilih menjadi presiden maka dia akan menjadi pemimpin boneka yang dikendalikan pihak-pihak lain.
Lebih lanjut Jokowi mengatakan dirinya sudah terbiasa menerima kritikan dari berbagai pihak termasuk lawan politik saat mengikuti pemilihan kepala daerah.
"Saya sudah berkali-kali ikut pilihan. Pilkada Solo, Pilgub di Jakarta, kalau diejek-ejek ya sudah biasa," katanya.

Jokowi menyatakan dirinya tidak ingin terjebak dalam skenario politik saling serang dalam pemilu 2014.
"Saya tidak akan menanggapi hal seperti itu. Kalau mau nyerang, silakan. Mau jelek-jelekin silakan, karena masyarakat tidak bodoh, sudah pintar, sudah bisa memilah-milah," katanya.
Suasana panas menjelang pemilu sudah mulai terasa. Aksi saling sindir antar-capres sudah dimulai.
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra yang juga calon presiden dari partai tersebut, Prabowo Subianto, dalam orasi kampanye perdana, Minggu (16/3) di Sragen Jawa Tengah meminta agar masyarakat tidak memilih pemimpin boneka.

"Jangan mau dipimpin orang-orang koruptor carilah pemimpin yang bersih dan memikirkan rakyatnya dan jangan mau juga dipimpin oleh orang yang suka bohong, boneka-boneka asing karena Indonesia akan terus miskin," kata Prabowo dalam orasinya.(tp)

Jokowi Akui Tugas Presiden Berat

Jokowi Akui Tugas Presiden Berat

Sukabumi (Antara) - Calon presiden (capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widoo (Jokowi) mengaku merasa berat saat ditunjuk menjadi capres. Â 
"Jadi seorang presiden itu tidak gampang. Oleh sebab itu saya tidak menyambutnya dengan suka cita. Sebab itu tugas yang maha berat, tapi saya meyakini dengan dukungan bapak ibu saya yakin bisa berhasil," kata Jokowi di depan ratusan relawan dan simpatisan PDI-P di Sukabumi, Kamis (27/3) malam.  Â Ã‚ 
Lebih lanjut Jokowi mengatakan rakyat saat ini menginginkan perubahan. Oleh sebab itu dirinya lebih memilih mendekati rakyat dengan ketulusan hati dari pada melakukan kampanye dengan dana besar. Â Ã‚ Ã‚ 
"Saya gak bisa kasih apa-apa yang berupa materi karena yang saya punya hanya kemampuan. Mungkin yang lain sudah siap uang triliunan, sudah pasang iklan tiap malam di TV. Kita sampai sekarang belum. Baliho satupun belum terpasang," katanya. Â Ã‚ Ã‚ 
Namun Jokowi yakin, dengan semangat para relawan dan simpatisan, dirinya pasti bisa memenangkan pilpres. Â Ã‚ Ã‚ 
"Jangan bayangkan Jokowi itu gagah. Saya ya begini ini. Apa adanya. Tidak ada uang. Tampang saya ya beginilah, tapi masih lebih ganteng dari Tukul," katanya tertawa. Â Ã‚ Ã‚ 
Jokowi menyampaikan penunjukan dirinya menjadi calon presiden dari PDI-P oleh Ketua Umum PDIP Megawati pada Jumat 14 Maret 2014 di Rumah Pitung, Marunda, Jakarta Utara. Â Ã‚ Ã‚ 
"Memang saat deklarasi itu sederhana sekali. Saya hanya sendirian tidak didampingi tokoh-tokoh besar. Hanya ada saya dan bendera Merah Putih. Karena saya percaya koalisi kita adalah koalisi rakyat," katanya. Â Ã‚ Ã‚ 
Jokowi juga mengingatkan pentingnya memenangkan pemilu legislatif (pileg) karena jika perolehan suara di parlemen kecil maka potensi lobi-lobi kebijakan selalu ada. Â Ã‚ Ã‚ 
"Percuma kalau jadi presiden tapi di dewan suaranya kecil. Akan berat mengelola negara sebesar ini dengan parlemen kecil," katanya.(rr)

Rabu, 26 Maret 2014

Ini perintah Mega ke Jokowi jika terpilih menjadi presiden


Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akhirnya menjadi capres yang bakal diusung PDIP di Pilpres 2014. Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo mengatakan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberi perintah singkat kepada Jokowi soal pencapresannya.
Ini perintah Mega ke Jokowi jika terpilih menjadi presiden

Ini 3 Mandat Mega soal pencapresan Jokowi

"Perintah singkat Bu Ketum ke Jokowi, menjaga NKRI dan kemajemukan bangsa, menjaga UU 45 serta Pancasila. Di samping itu, harus menjalankan Trisakti dalam setiap keputusan politik," kata Tjahjo dalam jumpa pers di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (14/3).

Selain itu, Mega memerintahkan Jokowi untuk menyejahterakan rakyat. "Pak Jokowi harus menyejahterahkan rakyat Indonesia. Harus mengawal politik pro rakyat menuju Indonesia hebat," katanya.

Seperti diketahui, Megawati Soekarnoputri telah resmi memberikan mandat kepada Jokowi untuk maju menjadi calon presiden. Amanat itu diberikan dalam bentuk surat perintah harian.

"Saya ketua umum PDIP kepada seluruh rakyat Indonesia yang mempunyai mata adil, keadilan dan kejujuran di mana pun kalian berada," ujar Puan membacakan mandat Mega di DPP PDIP, Lenteng Agung.

Berikut isi mandat tersebut:

1. Dukung Bapak Joko Widodo sebagai calon presiden dari PDIP
2. Jaga dan amankan pemilu legislatif, TPS-TPS dan proses penghitung dari kecurangan dan intimidasi
3. Teguh dan mengawal demokrasi di Republik Indonesia tercinta.

Senin, 26 Agustus 2013

Jokowi Tepis Komentar Foke Soal Jakarta Terancam Bangkrut Seperti Detroit

Jokowi Tepis Komentar Foke Soal Jakarta Terancam Bangkrut Seperti Detroit

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nicolas Timothy
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo menepis komentar mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo yang mengingatkan ancaman kebangkrutan Jakarta seperti kota Detroit, Amerika Serikat lantaran terlalu berat menanggung beban keuangan.
"Jauh lah. Kita ini bukan Detroit. Income kita juga besar," ujar Joko Widodo di Balai Kota, Jakarta, Senin (26/8/2013).

Pria yang akrab disapa Jokowi ini bahkan mengungkapkan pemasukan di Jakarta lebih baik dari pemasukan Indonesia. Jokowi juga menyebut akan berusaha memperbaiki pelayanan dalam hal perizinan.
"Misalnya pelayanan perizinan bisa kami perbaiki dan bisa dipersepsikan positif oleh dunia usaha. Saya kira itu kita akan lebih bagus lagi," ucap Jokowi.

Sebelumnya, Foke dalam acara Halal Bihalal yang digelar di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/8/2013) mengatakan pemerintah provinsi jangan sampai salah mengambil keputusan dalam mengambil kebijakan. "Saya bukan bicara Jakarta saja, tapi semuanya. Kalau salah manajemen, maka dia (kota) menghadapi skenario yang ujungnya kebangkrutan," kata Foke.