Indah Pada Waktunya

Minggu, 16 Februari 2014

CV. LUMADA bitha SUKSES Kirim Kimia Aluminium Sulfat (Al2SO4) ke Costumer Rumah Sakit Tangerang










CV. LUMADA bitha SUKSES Kirim Kimia Aluminium Sulfat (Al2SO4) ke Costumer Rumah Sakit Tangerang

Inilah Perusahaan  CV LUMADA bitha SUKSES yang bergerak bidang (General Trading ~ Chemicals ~ Transportation ~ Manpower Service)Jika anda berminat dapat menghubungi Marketing (021) 557 52 101 atau (021) 961 52 111 atau (021) 991 52 111 atau (021) 948 02 111 atau 08181 52 111 atau 0812985 52 111 atau email lumada.bsukses@yahoo.co.id atau klik website : http://lumada-group.com atau http://lumada-group.blogspot.com atau http://indonetwork.co.id/lumada-group atau http://olx.co.id/user/kernol.com

CV. LUMADA bitha SUKSES Kirim Kimia Aluminium Sulfat (Al2SO4) Cair ke Costumer Rumah Sakit Tangerang










CV. LUMADA bitha SUKSES Kirim Kimia Aluminium Sulfat (Al2SO4) Cair ke Costumer Rumah Sakit Tangerang

Inilah Perusahaan  CV LUMADA bitha SUKSES yang bergerak bidang (General Trading ~ Chemicals ~ Transportation ~ Manpower Service)Jika anda berminat dapat menghubungi Marketing (021) 557 52 101 atau (021) 961 52 111 atau (021) 991 52 111 atau (021) 948 02 111 atau 08181 52 111 atau 0812985 52 111 atau email lumada.bsukses@yahoo.co.id atau klik website : http://lumada-group.com atau http://lumada-group.blogspot.com atau http://indonetwork.co.id/lumada-group atau http://olx.co.id/user/kernol.com


Main TimeZone di Lippo Karawci Mall















Main TimeZone di Lippo Karawci Mall

Aku




Aku lagi main Timezone di Lippo Karawaci

Aku dan Papa





Aku dan Papa

Beko


Beko kesukaan Abang Gernhard Matthew Panjaitan

CV. LUMADA bitha SUKSES Kirim Kimia Normal Hexane ke Costumer











CV. LUMADA bitha SUKSES Kirim Kimia Normal Hexane ke Costumer

Gisyel Lamora Panjaitan dan Mama


Gisyel Lamora Panjaitan dan Mama

Sabtu, 15 Februari 2014

Natal Keluarga 2013

Video Natal Kelaurga 2013

Tujuh Purn. Jenderal Sebagai Dirut di Anak Perusahaan PT Toba Sejahtra


Foto: Istimewa.

Ketujuh Purnawirawan Jenderal yang bertemu dengan SBY beberapa waktu lalu dikabarkan satu kantor di Lantai 17 Wisma Bakrie 2 di HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Sejak  tahun 2011 Ketua Umum Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie  telah menggandeng tujuh orang Purnawirawan Jenderal itu untuk mendukungnya sebagai calon presiden. Karenanya, Ical menyiapkan beberapa lantai peruntukan kantor di Wisma Bakrie II di kawasan bisnis Kuningan, Jakarta Selatan. Kebanyakan mereka adalah lulusan Akademi Militer tahun 1970. Para Jenderal ini dikomandani Luhut Panjaitan. Subagyo HS sebelumnya aktif di Partai Hanura. Sementara Suaidi Marasabessy adalah wakil ketua Komisi Pengawas DPP Partai Demokrat.

Dari pantauan The Politic, Lantai 17 yang berada di Wisma Bakrie 2 tersebut merupakan kantor PT Toba Sejahtra yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, selaku pemimpin dari tujuh Purnawirawan Jenderal tersebut. Enam Purnawirawan Jenderal lain yaitu Jenderal (Purn) Subagyo  Hadisiswoyo (mantan KSAD), Jenderal (Purn) Fahrul Razi (mantan Wakil Panglima TNI), Letjen (Purn) Johny Josephus Lumintang (mantan Pangkostrad), Letnan Jenderal (Purn) Sumardi (mantan Komandan Komando Pendidikan dan Latihan TNI), Letjend (Purn) Agus Widjojo (mantan Kepala Staf Teritorial TNI), dan Letjend (Purn) Suady Marassabessy (mantan Kepala Staf Umum TNI).

Para Purnawirawan Jenderal itu dikabarkan sering berkumpul dan melakukan diskusi. Selain di ruangan kantor, diskusi juga sering digelar di kantin Wisma Bakrie 2 saat jam makan siang. Mereka berdiskusi tentang apa saja, mulai masalah bisnis, ekonomi, kebangsaan, dan tentu saja politik. Peserta diskusi itu tidak hanya para Jenderal tapi juga melebar ke sejumlah politisi. Para Purnawirawan Jenderal itu juga disebut tergabung dalam Tim Begawan yang dipimpin oleh Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut sendiri pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada era Presiden Gus Dur.

PT Toba Sejahtra masih tergolong baru namun pertumbuhan usaha perusahaan yang didirikan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan itu, bisa dibilang sangat pesat.  Sejumlah anak usaha bermunculan. Umumnya, anak usaha Toba bergerak di tiga bidang, yakni batubara dan migas, sumber daya energi, dan agrikultur (minyak sawit). Di bidang batubara, PT Toba Sejahtra mendirikan PT Toba Bara Sejahtra Tbk. Perusahaan itu membawahi PT Indomining, PT Trisensa Mineral Utama dan PT Adimitra Baratama Nusantara. Areal konsesi Toba Bara sekitar 7087 hektar, dengan estimasi sumber daya total 236 juta ton.

Di bidang minyak dan gas, PT Toba Sejahtra membuat anak usaha dengan nama PT Zenergi Mineral Langgeng dan Fairfield Indonesia. Dan, untuk urusan energi, dibentuk PT Pusaka Jaya Palu Power. Selain itu, PT Toba Sejahtra juga memiliki perusahaan yang bergerak di bidang agrikultur yang diberi nama PT Trisena Agro Sejahtra. Untuk menjalankan sejumlah perusahaan yang berada di bawah PT Toba Sejahtra itu, Luhut, lulusan Akabri tahun 1970, menggandeng sejumlah temannya sesama Jenderal.

Dari penelusuran The Politic di Wisma Bakrie 2, para Purnawirawan Jendral itu tidak semua berkantor di Lantai 17, melainkan tersebar di beberapa lantai gedung itu. Para Purnawirawan Jenderal itu menempati posisi penting dari anak perusahaan PT Toba Sejahtra. “Tujuh Jenderal ini tidak semua berkantor di lantai 17. Seperti Pak Suaidi itu di Lantai 16 di PT Trisensa Mineral Utama (TMU), Pak  Agus Widjojo di Lantai 12 tapi saya tidak tahu nama perusahaannya, dan Pak Johny J. Lumintang itu di Lantai 11 di PT Adimitra Baratama Nusantara. Selebihnya memang di Lantai 17 ini (PT Toba Sejahtra),” ujar resepsionis Gedung Wisma Bakrie II itu.

The Politic kemudian menyambangi PT Adimitra Baratama Nusantara yang berada di Lantai 11. Anak perusahaan PT Toba Sejahtra ini memiliki kantor lebih besar dan terlihat modern. Setelah keluar dari lift 1 Wisma Bakrie 2, posisinya berada di sebelah kanan. Sebelum masuk lewat pintu kaca, akan terlihat nama  PT Adimitra Baratama Nusantara beserta logo.

Setelah melewati pintu kaca menuju meja resepsionis, tepat di depan meja resepsionis terdapat ruang meeting dilengkapi televisi LCD dan bangku sofa berwarna abu-abu gelap beserta meja. Selain itu di belakang meja resepsionis tersebut terdapat ruangan para karyawan dan ruangan Direktur Utama PT Adimitra Baratama Nusantara. Menurut resepsionis, Letjen (Purn) Johny Josephus Lumintang berkantor di lantai tersebut. “Betul, Bapak sebagai Dirut (Direktur Utama) di sini,” ujarnya singkat.

Kemudian di Lantai 12 terdapat Yayasan Luhur Bina Prakarsa. Resepsionis Yayasan Luhur Bina Prakarsa membenarkan yayasan tersebut masih merupakan anak perusahaan PT Toba Sejahtra. Posisi Letjen (Purn) Agus Widjojo sebagai Ketua Umum yayasan  yang bergerak di bidang Konsultan Politik. “Orang Golkar kebanyakan. Kan Bapak orang Golkar,” cetusnya. Namun menurut Intan, sekretaris Agus Widjojo, yayasan tersebut merupakan transformasi dari nama perusahaan sebelumnya yang bergerak di bidang konsultan politik dan tidak semuanya berafiliasi ke Golkar, bisa saja untuk konsultasi politik partai lain dan para politikus. Masih menurut keterangan Intan, hingga saat ini hanya Demokrat dan Gerindra yang belum pernah menggunakan jasa yayasan tersebut.

“Nama Yayasan Luhur Bina Prakarsa sebenarnya baru, bukan hanya bergerak di bidang konsultan politik saja, dulu memang iya bergerak di bidang itu, namun sekarang setelah adanya transformasi, kami juga menyediakan out bound, dan lainnya,” jelas Intan. Yayasan tersebut rupanya sedang ada penyusunan struktur organisasi baru dan pembenahan lainnya. Sehingga belum bisa menjelaskan secara rinci siapa saja Jenderal lain yang juga bergabung di perusahaan yang diketuai oleh Letjen (Purn) Agus Widjojo tersebut.

Selain yayasan tersebut, Agus juga memiliki yayasan lain. “Ada yayasan lain di luar milik Pak Agus, bergerak di pendidikan (sekolah, -red), tapi saya juga kurang begitu paham untuk yang diluar,” ujar sekretaris Agus. Yayasan Luhur Bina Prakarsa tersebut terletak paling pojok. Jika keluar dari lift 1 Wisma Bakrie 2 belok kiri menuju lorong hingga menemukan sebuah ruangan. Kantor ini tidak terlalu besar. Didominasi pula dengan tembok yang dilapisi kayu berwarna cokelat muda. Pintu masuk karyawan berada tepat di sebelah kiri meja resepsionis.

The Politic juga mendatangi PT Trisena Agro Sejahtera di Lantai 16. PT Trisena Agro Sejahtera ini merupakan anak perusahaan PT Toba Sejahtra yang bergerak di bidang perkebunan dan Letjen (Purn) Suaidi Marasabessy sebagai Direktur Utama. “Bapak sedang tidak ada, minggu-minggu ini sedang sibuk di partainya, Demokrat,” ujar salah satu pegawai.

Pada Sabtu (23/3), kepada The Politic, Suaidi membenarkan bahwa ketujuh Purnawirawan Jenderal itu menduduki posisi sebagai Dirut di anak perusahaan PT Toba Sejahtra. Menurutnya, masih ada satu lantai lagi anak perusahaan yang dipegang Jenderal di lantai 20 yang digunakan untuk lembaga pengkajian ekonomi, politik, bisnis, dan kebangsaan. Namun Suaidi tidak memberitahukan nama resmi lembaga kajian tersebut dan Dirutnya.

Suaidi juga sering bertemu dengan Purnawirawan Jenderal lain pada saat makan siang. Namun bukan hanya dilakukan di kantin saja, terkadang di Lantai 20. “Bukan hanya kami-kami saja (tujuh Purnawirawan Jenderal). Kalau memang diajak diskusi dengan politikus profesional, ya kami kumpul dan itu melihat bagaimana waktu Pak Luhut juga, kalau Pak Luhut tidak ada dan sedang berada di luar negeri seperti sekarang ini, ya kita atur jadwal kembali,” pungkasnya. Sopan, Leonina K Lahama.

Sumber: Tabloid The Politic Edisi 11 Tahun 2

Sintong Panjaitan, sang prajurit komando (2)

Posted on Updated on

Hubungan Sintong Panjaitan dengan Prabowo Subianto, mengalami saat-saat yang dekat dan kemudian retak bahkan boleh dikata terputus. Sebelum kejadian tahun 1985, Sintong dan Prabowo adalah anggota sesama warga “baret merah” yang dikenal punya kedekatan emosional yang cukup tinggi. Sintong boleh dikata tak pernah menjadi atasan langsung Prabowo. Karena pada saat itu Prabowo masih berpangkat kapten, sementara Sintong sudah Kolonel.


Hubungan antara Sintong Panjaitan dengan Prabowo Subianto, agaknya punya cerita tersendiri. Dalam buku tulisan Hendro Subroto itu, paling tidak ada 4 kali kejadian yang melibatkan Prabowo Subianto. Di tahun 1983, Kapten Prabowo Subianto pernah mengatakan bahwa Benny Moerdani akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soeharto. Prabowo dengan pangkat Kapten, bahkan sempat menemui beberapa jenderal perihal tuduhannya itu. Tapi para jenderal itu tak percaya dengan tuduhan Prabowo. Tanpa seijin atasan langsungnya, Prabowo bahkan berencana menyiapkan pasukannya untuk melakukan “pengamanan” (dalam tanda kutip) terhadap beberapa jenderal. (Halaman 452-460)

Kejadian kedua adalah ketika Prabowo memaksa menghadap untuk mempertanyakan kepindahannya dari Kopasandha ke Kostrad. Lihat posting terdahulu di sini.

Kejadian ke tiga adalah ketika Prabowo Subianto, diperiksa oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Dimana Prabowo diperiksa dengan kaitan aksi Tim Mawar Kopasus yang menculik sejumlah aktivis. Menurut Sintong, sebagai Komandan Kopasus, Prabowo seharusnya mengetahui dan bertanggung jawab atas kegiatan Tim Mawar. Anggota Tim Mawar mengatakan bahwa mereka mendapat perintah dari Mayor Bambang Kristiono. Pengadilan militer tidak meneliti tuntas, dari mana asal perintah yang sesungguhnya. (Halaman 470-471). Padahal dalam tradisi “baret merah” sekecil apapun kegiatan anggota komando, selalu diketahui Komandan. Mekanisme itu sudah standar di lingkungan “baret merah”.
Ketika anggota “Tim Mawar” Kopasandha/Kopasus dijatuhi hukuman karena terkait penculikan para aktivis. Pada waktu itu Prabowo adalah Komandan Jenderal Kopasus. Sintong Panjaitan menangis karena mantan anakbuahnya dihukum akibat melaksanakan perintah atasannya. (Halaman 472)

Kejadian ke empat adalah ketika Prabowo yang baru dipecat sebagai Panglima Kostrad oleh Presiden Habibie, memaksa untuk menemui Habibie dan mempertanyakan pemecatannya. Sintong Panjaitan sebagai Penasihat Presiden Habibie, “memaksa” Prabowo melepas pistolnya ketika akan melakukan pertemuan empat mata dengan Habibie. Sintong teringat kejadian di Korea Selatan, ketika Presiden Park Chung Hee ditembak mati dari jarak dekat oleh Jenderal Kim Jae Gyu di istana presiden Korsel. (Halaman 10 -18).
**

Sebagaimana disebutkan di posting terdahulu (1), buku Sintong ini bukanlah otobiografi atau biografi. Ia hanya catatan penggalan perjalanan Sintong Panjaitan. Sebagai buku ia juga tak memuat pemikiran Sintong secara utuh, padahal Sintong dinilai berprestasi membenahi Kopasandha. Prestasi Sintong mengembangkan satuan komando anti teror, juga tidak dijelaskan secara lengkap. Padahal pemikiran dan ide Sintong, amat berharga bagi militer Indonesia.

Buku ini memang mengungkap beberapa hal tentang kejadian di tubuh militer Indonesia, sayang justru di banyak bagian, ungkapan informasi terasa tidak lengkap dan kurang sistematis. Sehingga, pembaca awam tidak bisa mengikuti alur informasi dan malahan bingung membaca sistematika penulisannya. Agaknya baik penulis Hendro Subroto dan Sintong Panjaitan tidak mempunyai data-data otentik dan akurat. Sehingga mereka tidak mau mengungkap peristiwa di lingkungan militer secara gamblang. (supaya tidak dinilai memfitnah). Alhasil, banyak bagian dari kejadian yang ditulis, justru menimbulkan tanda tanya lanjutan. Pembaca dibiarkan menyimpulkan sendiri dari kejadian-kejadian yang ditulis.
Dalam kapasitas Sintong Panjaitan sebagai perwira yang cerdas, semestinya ia bisa menganalisis dan menjelaskan cerita dibalik kejadian (untold stories). Tapi buku Sintong, melewatkan bagian-bagian penting dari kejadian itu, dan tetap membiarkannya menjadi misteri. Kehadiran “pasukan liar” pada kasus penembakan di Santa Cruz, Dilli, misalnya tidak diungkap tuntas oleh Sintong dalam bukunya. Latar belakang peristiwa yang mengakhiri karir militer Sintong itu tentu sangat menarik untuk diketahui masyarakat. Tapi buku Sintong hanya menjelaskan sepotong-sepotong.

Meski Sintong belum bisa mengungkap fakta kehadiran “pasukan liar” di Santa Cruz, tapi seharusnya ia juga bisa menampilkan anlisis militer tentang hal itu. Beberapa fakta tentu bisa di analisa, sehingga membentuk “benang merah” kejadiannya. Laporan penyelidikan Kasus Santa Cruz, memang bersifat “top secret“, tapi Sintong mestinya bisa “mengintip” sebagian isi laporan untuk membuat analisa.

Dalam sidang Dewan Kehormatan Militer (DKM), yang dibentuk untuk menyelidiki kasus Santa Cruz, sebagai prajurit, Sintong tidak punya banyak “ruang” untuk menjelaskan ketidaksalahannya dalam kasus Santa Cruz. Akhirnya DKM memutuskan bahwa Sintong dianggap bertanggung jawab atas kejadian Santa Cruz 12 Nopember 1991. Buntutnya ia dicopot sebagai Pangdam. Karir militernya tamat. Amerika bahkan sempat menuduh Sintong sebagai penjahat perang karena kasus itu.

Melalui buku nya, Sintong semestinya bisa membuka semua fakta dan membebeberkan “kebenaran” yang sesungguhnya. Buku yang seharusnya bisa menjelaskan “pembelaan” Sintong atas pencopotannya, tapi hal itu tidak dilakukan. Sayang banyak pertanyaan itu tidak ditemukan dalam buku Sintong. Harapan publik agar Sintong mengungkap kebenaran dalam kasus Santa Cruz, maupun kasus lainnya, tidak terpenuhi.

Menurut Nurhana Tirtaamijaya, Dan Pomdam Udayana, pada tahun 1990-1991, penembakan di Santa Cruz, justru dilakukan oleh pasukan liar. Kehadiran pasukan liar itu terorganisir secara sistematis, cuma tidak menggunakan atribut. Pasukan liar di Santa Cruz dikendalikan oleh orang-orang dari Jakarta yang ingin menyingkirkan Sintong. Nurhana melakukan investigasi dalam kapasitasnya sebagai Dan Pomdam IX Udayana, setelah kejadian Santa Cruz.

Nurhana Tirtaamijaya menulis:
Ceritanya sangat panjang dan complicated/rumit, kalau saya ceritakan semua, bisa bisa mengundang fitnah… Yang saya tahu pasti adalah, pada saat saya melakukan penyelidikan dan penyidikan langsung kasus tragedi 12 November Dilli untuk diajukan kepengadilan militer atas desakan internasional, saya menemukan fakta/hasil penyelidikan yang berbeda dengan hasil yang diumumkan pemerintah, yaitu pembunuhan dalam tragedi tersebut ternyata dilakukan oleh sekelompok pasukan liar yang bersenjata lengkap tapi memakai pakaian preman, dari satuan infantri yang dipimpin oleh yang anda singgung didalam komentar anda…bukan oleh kelompok yang dijadikan tersangka oleh hasil penyelidikan pemerintah pusat..
Hasil penyelidikan dan penyidikan tersebut saya laporkan ke pimpinan tertinggi TNI AD di Jakarta…tapi ternyata tidak digubris dan tetap harus menggunakan hasil temuan pemerintah..
Dari situ saya menjadi kecewa dan miris, kok pimpinan TNI AD tidak menegakan kejujuran, kebenaran dan keadilan…Loloslah pelaku pembunuhan yang sebenarnya, yang mendesain untuk mendiskreditkan Pak Sintong sebagai Pangdam Udayana.

Video Natal Sekolah Minggu 2013

Gernhard Matthew Panjaitan dalam Acara Natal Sekolah Minggu 2013